Ketua Yayasan PETA, Tinton Soeprapto menyampaikan bahwa Jenderal Sudirman merupakan penggerak perang gerilya pertama di dunia pada masa itu.
Jenderal Sudirman juga sebagai angkatan pertama yang menjalani pendidikan PETA yang didirikan oleh Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Ageng Suryomataram, Ki Hadjar Dewantara, Gatot Mangkupraja, KH Mas Mansoer serta Haji Agus Salim yang dimulai dari Kota Bogor.
"Jadi ini salah satu kesempatan untuk pak wali kota, bahwa kita tidak lupa dengan sejarah. Jadi pergerakan itu menjalani pendidikannya dimulai dari Kota Bogor, yang saat itu satu-satunya di dunia yang memiliki pembela tanah air, termasuk ayah saya juga ikut didalamnya," katanya.
Pendidikan dan Pelatihan Tentara PETA dimulai pada 1943 di Kota Bogor dan dibubarkan setelah merdeka pada 1945.
Kemudian, pada tahun 1993 mulai dibangun museum PETA di Jalan Jenderal Sudirman, Bogor Tengah, yang peletakan batu pertama pendiriannya dilakukan oleh mantan Wakil Presiden RI ke-4, Umar Wirahadikusumah dan peresmiannya dilaksanakan pada 1995 oleh Presiden Soeharto.
Keberadaan museum ini juga sebagai bentuk penghargaan dan menyimpan sejarah yang menyimpan 538 senjata aktif peninggalan PETA.
Atas tindak lanjut dari rencana pembangunan Patung Jenderal Sudirman ini, Tinton pun bangga terhadap Kota Bogor yang memiliki pemimpin yang tahu dan mau meneruskan sejarah kepada generasi akan datang.
"Jadi gayung bersambut, kita naik perahu kemudian pak wali mengibarkan layarnya. Jadi pak Wali Kota, Dedie Rachim ini di awal menjabat sudah berani membuka sejarah-sejarah dan mau juga memberikan pembelajaran kepada generasi akan datang," ucapnya.