Komisi IV Murka, Nasib Empat Ruang Kelas di SDN Polisi 1 Bogor yang Ambruk Terkatung-katung

Komisi IV Murka, Nasib Empat Ruang Kelas di SDN Polisi 1 Bogor yang Ambruk Terkatung-katung

Ketua Komisi IV DPRD Kota Bogor, Akhmad Saeful Bakhri.-Nanda Ibrahim-Bogor Aktual

BogorAktual.id - Ketua Komisi IV DPRD Kota Bogor, Akhmad Saeful Bakhri kembali menyoroti atas langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dalam menyikapi persoalan yang terbilang genting khususnya di sektor pendidikan.

Kali ini wakil rakyat itu menyentil terkait penanganan perbaikan SDN Polisi 1 Kota Bogor yang dinilai lambat dan mengganggu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). 

Pihak sekolah saat ini terpaksa harus menerapkan tiga shift dan mengurangi jam KBM bagi 850 siswa dari 12 rombongan belajar (rombel). 

Hal ini dikarenakan empat ruang kelas di sekolah tersebut mengalami kerusakan atap akibat angin puting beliung yang terjadi pada 3 Januari 2024 lalu, namun hingga kini belum mendapatkan penanganan yang memadai.

Diketahui bahwa saat ini Dinas Pendidikan (Disdik) masih menunggu finalisasi Detail Engineering Design (DED) serta ekspose dari konsultan pengacara. 

Ketidakpuasan terhadap lambatnya tindakan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dalam melakukan perbaikan sangat dirasakan oleh Akhmad Saeful Bakhri. 

Ia menyayangkan dan murka, sebab meskipun tersedia anggaran Belanja Tak Terduga (BTT) yang dapat digunakan untuk penanganan, Pemkot Bogor masih belum mengambil langkah yang cepat.

"Saya merasa prihatin dengan lambannya tindakan Pemerintah Kota Bogor, terlebih karena hal ini mengganggu proses belajar mengajar para murid di sana," katanya kepada wartawan dikutip Jumat, 2 Februari 2024.

Gus M sapaan karib Akhmad Saeful Bakhri menekankan, dalam hal ini Pemkot Bogor melalui Disdik seharusnya bisa memberikan solusi jangka pendek agar kegiatan belajar mengajar para siswa tidak terganggu. 

Salah satu solusinya adalah dengan mengarahkan siswa yang kelasnya terdampak untuk mengikuti KBM di gedung yang dimiliki dan masih kosong atau jarang digunakan oleh Pemkot Bogor.

Gus M juga menegaskan, bahwa meskipun para murid diberikan tugas tambahan yang harus dikerjakan di rumah sebagai pengganti dari pengurangan waktu KBM, hal ini tidak akan efektif jika dibandingkan dengan KBM reguler. 

"Jelas saja akan ada perbedaan, murid yang mengerjakan tugas di rumah dengan siswa yang diberi pelajaran langsung di sekolah," ucap Politisi PPP ini.

"Hal itu sama seperti saat pandemi, ketika siswa belajar secara daring, hasil akademisnya tidak memuaskan dan karakter anak-anak pun tidak terbentuk dengan baik," lanjutnya.

Menurut Gus M, bahwa pembangunan sumber daya manusia (SDM) sejak dini seharusnya menjadi prioritas Pemkot Bogor jika ingin mencetak generasi unggul. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News